rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Friday, March 18, 2011

‘Klenger’ Menjual 100 Ribu Burger per Bulan

Velly Kristanti Pendiri Klenger Burger


Bukan yang pertama, namun harus memberikan yang terbaik merupakan kewajiban pengusaha. Inilah strategi sukses Velly Kristanti, pendiri dan pemilik brand Klenger Burger. Berdiri tahun 2006, namun kini usahanya terus berkembang, hingga perkembangnya menjadi pantauan para kompetitor. Kepada wartawan Republika, Zaky Al Hamzah, Velly Kristanti menceritakan kiat bisnisnya.

‘Teman, ditengah kehidupan yang sedemikian berat, berbagai problem datang silih berganti, yakinlah hanya Allah yang akan menyelamatkan hidup anda dari segala derita & kesedihan. menangislah & mengadulah kpd Allah.’ Demikian status Velly di jejaring sosial tiga hari lalu yang berisi semangat dan tetap tegar meski menghadapi segala masalah.


Velly bersyukur bisnis Klenger Burger-nya makin berkembang meski sempat jatuh bangun. Sebelum mendirikan Klenger, istri Gatut Cahyadi ini merintis bisnis rumah makan (rumkan) Pondok Sayur Asem (PSA) pada 2002, ketika masih bekerja sebagai senior manager account manager BBDO Komunika. Lokasinya di Pekayon, Bekasi, Jawa Barat. Karena tak total, Velly sering bersitegang dengan juru masak, dari mulai menu hingga cara masak. ‘’Ilmu masak makanan didapat dari ibu saya,’’ ujar pengusaha kelahiran Jakarta, 26 Desember 1974 ini.


Dua tahun kemudian, suaminya yang bekerja di perusahaan Jepang membujuk agar total mendirikan usaha mandiri. Velly menyetujui gagasan itu dan mendirikan bisnis advertising. Namun, usaha ini tak berhasil, hingga beralih ke bisnis bidang IT pada 2004-2005.

‘’Waktu itu saya menawarkan mobile marketing ke sejumlah perusahaan. Tapi, belum ada yang berminat,’’ kata lulusan D3 Sastra Belanda FIB UI ini. Tak menyerah, Velly dan suami mencoba bisnis kerajinan tangan. Sayang, keberuntungan belum berpihak. Sementara, tabungan mereka semakin tipis.


Velly lantas merenung. Ternyata, keputusannya, dia harus memulai lagi bisnis makanan dan kembali ke rumkan PSA. Modal awalnya sewa rumkan PSA masih tersisa 1,5 tahun, 15 karyawan, serta peralatan masakan. Modal duit hanya Rp 30 juta. Velly dan suami tercinta sepakat tidak mungkin melanjutkan bisnis PSA, karena masyarakat makin mobile. Hingga, terbesit makanan cepat saji burger sebagai proyek pertamanya. ‘’Karena modal kurang, saya pinjam mantan atasan saya, mas Aris Budiharjo,’’ katanya.


Karena tak punya keahlian membuat burger, Velly membeli beragam buku burger, hingga meracik sendiri agar khas Indonesia baik bumbu maupun tekstur dagingnya. Untuk ujicobanya, burger itu disajikan kepada kerabat dan rekan dekatnya. Responnya bagus. Bahkan, salah satu rekannya yang semula tak suka burger, akhirnya kepincut burger buatan Velly yang terdiri roti lembut dan daging berurat serta saus spesial.


Nama Klenger, kata Velly, adalah usulan suami yang asli Blitar, Jatim. ‘’Kata suami, Klenger itu seperti keenakan atau klepek-klepek lah, biar ingat terus dengan makanan ini,’’ ujarnya. Setelah nama didapat, sebagai pakar advertising tak sulit bagi Velly mendesain logo dan warna brand. Logo burger berupa tulisan "Klenger Burger" ada di atas burger, tidak disamping burger seperti logo burger lain. ‘’Arti filosofi kurang lebih, kita sebaiknya melihat segala sesuatu tak hanya dari pandangan mata tapi dari segala aspek, istilah kerennya: Beyond Burger,’’ ujarnya.


Klenger Burger resmi berdiri 10 Februari 2006, dan diurus hak patennya. Termasuk izin SIUP Peroangan. Sejak itu, sejumlah pihak tertarik menjadi terwaralaba (franchisee) hingga Velly mampu mengembangkan 38 outlet. Namun, salah satu mitranya beriktikad buruk. Saat itu, dia percaya begitu saja kepada salah satu mitra yang bermaksud mengembangkan usaha agar lebih maju dan menjanjikan investor baru.

Namun karena kurang berpengalaman, Velly akhirnya dikelabui. Suami meminta saya mengikhlaskan kasus itu, dan sekarang lebih fokus untuk hal-hal positif,’’ ujarnya.


Kini kasusnya belum tuntas sehingga penggunaan merek Klenger Burger antara Velly dan mantan mitranya masih berselisih. Jadi, jangan heran kalau menemukan nama outlet Klenger Burger di salah satu kota, yang bukan milik Velly. ‘’Kini, saya lihat ada perubahan, huruf G di Klenger diganti huruf D, jadinya Klender. Ada juga, teman saya yang masih melihat outlet Klenger Burger di suatu daerah, tapi saya tak punya cabang di situ,’’ katanya. Velly mengaku enggan membuka luka lama itu. Sejak itu, Velly memilih mengurus bisnis di bawah bendera PT Karya Anak Negeri (KAN).


Per Februari 2011, kata dia, Klenger sudah mempunyai 82 outlet di Jabotabek, Bandung, Kuningan, Bali, dan Medan. ‘’Sebanyak 20 outlet milik terwaralaba (franchisee), sisanya investasi KAN,’’ ujarnya. Dalam sebulan, terjual 100 ribu burger. Dengan harga rata-rata burger Rp 17.500 per produk, maka omzetnya sekitar Rp 1,75 miliar per bulan.


Selain burger, Klenger juga memperkenalkan brand Pizza Kriuk, Clemots Coffee, dan Kweker Fried and Grilled Duck. Pizza bikinan Klenger juga masih bercita rasa Indonesia, misalnya saja pizza balado dan pizza sate. ‘’Saya, suami dan tim terus membikin brand di bawah KAN ini,’’ jelas dia ditemui di Kantor KAN, Jl RC Veteran No 21, Jaksel.


Kini, sudah ada Burger Instan (Burgins) yang menganut konsep take away. Burgins sini mudah ditemui di jaringan Alfa Express dan Circle K, Klenger Kriuk (2K) yang menyediakan menu burger dan pizza dengan tempat buat kongkow yang asyik, Foodteran dengan konsep kolaborasi Klenger Burger, Pizza Kriuk, dan Clemots Coffee dalam satu area yang menyuguhkan variasi lengkap. ‘’Anak wapres Boediono, yakni Dios Kurniawan, jadi terwaralaba (franchisee) Klenger dengan membuka outlet di Jalan Salemba Tengah (di depan RS. MH. Thamrin) pada 25 Juli 2010,’’ ujarnya. Konsep outletnya adalah 4 in 1 atau Velly menyebutnya 4 serangkai. (***)

Source : KORAN REPUBLIKA


Sunday, August 1, 2010

Ilmu yang Bermanfaat Dalam Kehidupan

VELLY KRISTANTI: Ilmu yang Bermanfaat Dalam Kehidupan

Adakah makanan yang siap disantap setiap saat? Ketika Anda sedang dalam perjalanan bisnis, atau di kantor dengan setumpuk pekerjaan, Anda sangat memerlukan makanan siap saji yang praktis dan memenuhi kebutuhan nutrisi. Burger adalah jawabannya.

VELLY KRISTANTI: Ilmu yang Bermanfaat Dalam Kehidupan

Klenger Burger merupakan salah satu produk yang dikeluarkan oleh PT. Kinarya Anak Negeri sebuah perusahaan yang didirikan dan dikelola oleh Velly Kristanti. Di tengah kesibukannya saat IFRA 2010 di Jakarta Convention Center lalu, EXCELLENT berhasil mengajaknya berbincang-bincang seputar bisnis yang ia jalani bersama suaminya, Gatut Cahyadi.

Bermula dari Sebuah Pondok

Setelah mendirikan Pondok Sayur Asem, sebuah rumah makan khas Sunda, di tahun 2002 bersama seluruh anggota keluarganya, Velly merasa sulit dengan tantangan ia hadapi. Kenyataan mengatakan, sulitnya menjalankan bisnis bersama anggota keluarga besar lainnya. Tahun 2004, ia beralih ke bisnis teknologi informasi. Tidak bertahan lama.

Bersama sang suami, ia memikirkan kembali bisnis makanan. Ia bertanya, apakah makanan yang siap dimakan kapan saja, di mana saja? Mereka sepakat burger adalah jawabannya. Setelah setengah tahun mencari formula yang pas untuk burgernya, mereka menguji burger tersebut kepada salah seorang teman yang tidak doyan burger. Pikir mereka, burger akan terbukti rasanya enak jika yang menyantapnya bukanlah seorang penggemar burger, melainkan justru orang yang tidak menyukai burger. Jika orang yang semula tidak suka burger saja bisa menelannya, apalagi orang yang sedari awal menyukai burger?

Artikel selengkapnya dapat Anda temukan di Majalah Bisnis EXCELLENT edisi 06, Agustus 2010.

source : http://www.majalahexcellent.com/artikel/112/index.php

Monday, May 10, 2010

Klenger Burger, Kisah Sukses Pejuang Kuliner Indonesia

Klenger Burger, Kisah Sukses Pejuang Kuliner Indonesia
Kamis, 06/05/2010 16:20 WIB

Bagaimana bisa sebuah burger mengubah nasib Velly Kristanti dan mampu hasilkan omset hingga milyaran rupiah per bulan? Beginilah ceritanya.

Bermula dari Pondok Sayur Asem

Rumah makan Pondok Sayur Asem adalah usaha yang pernah dirintis Velly Kristanti dan suaminya, Gatut Cahyadi, pada 2002 saat masih berstatus pegawai kantoran. Namun, usaha rumah makan itu tidak terlalu sukses, ia pun sempat frustrasi.

Tahun 2004, Velly dan suami terjun bebas melepaskan status pegawai dan mendirikan bisnis advertising syariah dan gagal lagi. Kemudian, bisnis IT juga pernah dilakoninya dan setali tiga uang, kesuksesan belum juga menghampiri.

Hingga sampai di titik nol dan satu-satunya yang mereka punya hanya Pondok Sayur Asem di daerah Pekayon, Bekasi, yang sempat tidak mereka pedulikan. Berawal dari situ, ide membuat makanan untuk anak muda yang cepat, halal, dan nikmat pun terbersit dan burger dipilih sebagai pilot project-nya.

Mengaku tak pernah belajar dari chef mana pun, Velly dan suami menganalisis dan meracik sendiri visi burger mereka, tentunya yang khas dan pas dengan lidah orang Indonesia.

Segala macam buku tentang burger dipelajari hingga akhirnya Velly membuat sendiri burger yang Indonesia banget. Terbuat dari roti yang lembut dan daging berurat serta saus spesial, burger bikinan Velly ternyata digemari dan semakin laris dipesan. Intinya, bikin orang jadi 'klenger'!

Klenger Menjelajah Negeri

Nama 'klenger' diambil dari kosakata bahasa Jawa yang bisa berarti 'setengah mati', atau 'klepek-klepek', namun, Velly lebih suka mempersepsikan 'klenger' dengan analogi 'tobat sambel', sudah tahu sambel pedas tapi mau lagi mau lagi. Begitulah nama 'klenger' akhirnya dikenal masyarakat, khususnya anak muda yang menjadi target market Klenger Burger.


Selain nama yang gampang diingat serta rasa dan servis yang memuaskan, Klenger Burger juga sukses dengan persebaran outletnya yang pada tahun 2010 ini berupaya mencapai target 100 outlet di seluruh negeri. Tak heran, “Jelajah Negeri” jadi tema Klenger Burger untuk tahun ini.

Sepertinya, target itu akan mudah tercapai mengingat hingga April 2010 ini, Klenger sudah mempunyai 63 outlet yang tersebar di Jabotabek, Bandung, Kuningan, Bali, dan Medan.Selain itu, ada 8 outlet yang mau opening, serta tambahan 6 outlet yang sedang dalam preparation juga.


Outlet Foodteran Klenger Burger di Bintaro

Dalam hal paten, Klenger Burger tak mau kalah cepat. Sejak lahir, brand Klenger sudah dipatenkan atas nama Velly Kristanti.Meskipun demikian, tiruan Klenger Burger ternyata sudah merajalela dan Velly pun mewanti-wanti agar masyarakat dapat dengan bijak memilah mana Klenger asli dan mana yang palsu.

Velly pun masih mengurus kasus tersebut lewat jalur hukum. Selain hak paten, sertifikat halal dari MUI pun sudah dikantongi sejak Klenger masih dibuat secara rumahan di Bekasi hingga Klenger diproduksi massal dengan menggunakan mesin saat ini.


Logo Klenger Burger pun mempunyai filosofi yang tak kalah keren. Kalau Anda biasa melihat tulisan merk burger ada di tengah-tengah gambar burger, Klenger Burger menyajikan logo yang berbeda.

Tulisan "Klenger Burger" ada di atas burger, yang artinya kurang lebih, kita sebaiknya melihat segala sesuatu tak hanya dari pandangan mata tapi dari segala aspek, istilah kerennya: Beyond Burger.

Di Mana Bumi Dipijak, Di Situ Langit Dijunjung

Filosofi tersebut dianut Klenger untuk lebih dekat kepada masyarakat. Untuk memperkenalkan burger dengan cita rasa Indonesia, tak serta merta Klenger memaksakan rasa tertentu kepada masyarakat.

Sebaliknya, pendekatan rasa dan budaya digunakan Klenger untuk menarik market. Misalnya saja, di Medan, Klenger membuat menu spesial, yaitu burger omelet yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat yang sangat suka dengan telur.

Selain burger, Klenger juga memperkenalkan brand Pizza Kriuk, Clemots Coffee, dan Kweker Fried and Grilled Duck. Pizza bikinan Klenger juga masih bercita rasa Indonesia, misalnya saja pizza balado dan pizza sate.

Klenger memang addict untuk membuat brand-brand baru di bawah PT Kinarya Anak Negeri (KAN), perusahaan yang digawangi Velly dan suami. Brand-brand ini pun mempengaruhi strategi marketing Klenger ke masyarakat, dan tentunya investor yang berminat menjadi Franchisee.

Kini, sudah ada Burins (Burger Instan) yang menganut konsep take away, dapat ditemui di jaringan Alfa Express dan Circle K, 2K (Klenger Kriuk) yang menyediakan menu burger dan pizza dengan tempat buat kongkow yang asyik, Foodteran dengan konsep kolaborasi Klenger Burger, Pizza Kriuk, dan Clemots Coffee dalam satu area yang menyuguhkan pilihan variasi lengkap dengan teknologi support Free WIFI.


Ibarat Ujian Semester Pendek

Ibarat semester pendek saat kuliah, Velly merasakan ujian yang menimpanya dalam waktu singkat telah membawa begitu banyak pelajaran berharga. Dari ditipu orang, modal habis-habisan, sampai frustrasi, membuat Velly dan suami belajar ikhlas dan mencoba bangkit dari keterpurukan.

Percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin serta kesuksesan itu bukan suatu proses yang instan adalah resep Velly dalam menggodok bisnisnya. Meski bisnisnya berkembang pesat, Velly merasa belum di puncak sukses. Ibu dari Raka dan Zahra lulusan D3 Sastra Belanda FIB UI ini masih merasa banyak PR yang harus dikerjakannya.

Mulai dari maintenance outlet, training SDM, hingga pengembangan usaha. Soal tawaran dari luar negeri, Velly mengaku, telah menampik tawaran tersebut karena ingin berjaya di negeri sendiri baru menginjakkan kaki di negeri orang.

Outlet Klenger Burger diklasifikasikan menjadi tiga kelas, yaitu Green Box, Yellow Box, dan Red Box. Untuk Outlet Green Box, omset yang diraup Klenger dapat mencapai lebih dari Rp2 juta/hari, Yellow Box Rp1—Rp1,5 juta/hari, Red Box kurang dari Rp1 juta/hari.

Sementara outlet yang baru dibuka digolongkan di Blue Box yang butuh penanganan khusus serta ada pula Black Box yang merupakan golongan outlet yang perlu direlokasi dan ditinjau kembali.


Anda yang berminat icip-icip burger dengan cita rasa Indonesia atau tertarik untuk berinvestasi menjadi franchisee Klenger Burger mulai dari Rp15 juta dapat menghubungi PT KINARYA ANAK NEGERI di Jln. R.C. Veteran No.21, Bintaro, Jakarta Selatan. Telp. 021 737 3589, website: www.kinarya.co.id, klengerburger.blogspot.com (ind)

Sunday, March 21, 2010

Sang Franchisor Bertangan Dingin

Velly Kristanti: Sang Franchisor Bertangan Dingin

Velly Kristanti (35) mengawali karirnya pada tahun 1996 sebagai seorang Senior Account Executive di sebuah perusahaan periklanan di Jakarta. Pilihan untuk keluar dari zona nyaman pekerjaan bukanlah perkara mudah. Namun asa untuk menjadi seorang pengusaha ternyata lebih dominan di dalam benaknya. Ibu dua orang anak ini pun akhirnya terjun bebas ke dunia bisnis bersama sang suami tercinta pada tahun 2004. Mulai dari bisnis di bidang periklanan, kerajinan tangan, IT, hingga akhirnya “tercemplung” ke dunia bisnis F & B yang ia lakoni sampai saat ini. Alhasil 68 outlet franchise bermerek Burger Instan, Klenger Burger Express, Klenger Kriuk, Foodteran, Kwekker, maupun Klenger Fried and Grilled menetas dari tangan dingin wanita berbintang capricorn ini.

Teks dan Foto oleh Febrian Djaka Putra. (febrian@glowupmagazine.com)

Velly merupakan seorang perempuan tangguh yang tak kenal menyerah. Ia dan sang suami, Gatut Cahyadi, rela mengorbankan karir mapannya demi masa depan yang lebih baik. Semangatnya seperti api yang selalu menyala-nyala. Ia sempat jatuh bangun saat mulai merintis berbagai jenis usaha sebelum akhirnya menemukan merek dagang jenis F & B kebanggaannya ini. “Saya sudah mulai berbisnis pada tahun 2002. Bisnis pertama saya adalah Pondok Sayur Asem, sebuah rumah makan sunda yang terletak di Pekayon, Bekasi. Pada waktu yang sama, sebenarnya saya masih bekerja di sebuah kantor advertising. Dua tahun kemudian, suami yang bekerja di sebuah perusahaan Jepang datang membujuk saya untuk benar-benar terjun bebas ke dunia bisnis. Saya mengabulkan permintaannya, dan membangun sendiri sebuah perusahaan advertising. Saya juga sempat menjalankan bisnis di bidang IT dan kerajinan tangan. Segala macem bisnis lah saya jalanin. Tapi ternyata semua berjalan tidak semanis apa yang kita bayangkan. Sampai akhirnya saya mengalami krisis keuangan di tahun 2006. Punya duit tinggal sedikit. Karena takut hilang, duit yang tinggal sedikit itu akhirnya saya investasikan. Ternyata diinvestasikan malah hilang beneran. Jadi yang bener itu, ya kita ngga usah takut apa-apa (tertawa). Yang penting semangat harus terus kita jaga.” Papar wanita lulusan tahun 1993 Sastra Belanda Universitas Indonesia tersebut.

Klenger Burger, Bisnis dari Kegagalan

Setelah itu Velly tidak lantas putus asa atas semua kegagalan yang ia alami. Sebaliknya, kegagalan tersebut malah menjadikannya semakin kreatif. Berbagai analisa ia lakukan guna menghindari kesalahan masa lalu. Hingga akhirnya terpikir oleh Velly untuk merubah konsep Pondok Sayur Asem menjadi konsep kedai makanan lain yang lebih menjual. “Saat krisis itu, saya sempat kebingungan juga untuk bangkit dari keadaan. Kami sudah tidak punya apa-apa. Aset kami hanya tinggal Pondok Sayur Asem. Itu pun kondisinya sudah sangat memprihatinkan, bisa dibilang tidak menghasilkan lah. Sementara kontrak propertinya masih sisa 1 tahun lagi. Kondisi tertekan seperti itu yang akhirnya memaksa kami untuk berpikir lebih keras agar bisa bangkit dari krisis.” Kenang Velly.
Berbeda dengan konsep sebelumnya, kali ini Velly berpikir untuk membuat kedai yang membidik anak muda. Ia baru menyadari bahwa konsep Pondok Sayur Asem yang ia usung sebelumnya tidak tepat. “Masyarakat saat ini sudah sangat mobile. Mereka membutuhkan sajian yang serba cepat sebab mungkin waktu mereka sangat terbatas. Sementara Pondok Sayur Asem menggunakan bahan baku yang serba fresh from the oven. Saya ingin buat sesuatu yang bisa dimakan setiap saat” Ujar wanita asal Bandung tersebut.

Velly pun sempat melancarkan riset kecil-kecilan untuk menentukan jenis makanan apa yang hendak ia jual. Proses riset mengerucut setelah ia mendapatkan ide untuk menjual burger. Menurutnya makan burger adalah tren anak muda saat ini. Alhasil ide untuk menjual burger tersebut membawanya untuk menyelami berbagai resep burger dari seluruh dunia. “Padahal saya tidak punya pengalaman bekerja atau sekolah chef. Saya hanya belajar otodidak dari buku-buku resep burger. Saking banyaknya resep yang saya pelajari, buku resep burger yang sudah terkumpul pun menjadi tidak berguna. Saya buat sendiri burger versi saya. Versi lidah orang Indonesia.” Ungkap Velly yang ditemui wartawan Glow Up di Kantor PT. Kinarya Anak Negeri, Jln. RC. Veteran No. 21, Jakara Selatan.
Setelah berhasil membuat sendiri resep burger yang selalu disebutnya sebagai burger khas orang Indonesia tersebut, Velly kemudian melakukan test sampling untuk mengetahui respon orang lain terhadap burgernya. Test sampling tersebut ia lakukan kepada beberapa orang sahabatnya. ”Ada salah seorang temen saya yang sama sekali tidak suka burger. Namun setelah memakan burger kreasi saya, dia langsung suka. Padahal, sebelumnya ia paling tidak bisa makan burger loh.” Ungkap Ibu cantik yang gemar membaca Al-qur’an tersebut.
Sejak saat itulah, dengan modal pinjaman dari mantan bos, Velly kemudian putar haluan dari bisnis rumah makan sunda kemudian beralih ke sebuah bisnis kedai burger yang ia beri label Klenger Burger.
Rahasia kenikmatan burger kreasi Velly sebenarnya terletak pada bahan dasar yang digunakan untuk membuat beef patty. Velly menggunakan jenis daging yang teksturnya lebih berurat sehingga rasanya lebih kenyal saat dikunyah. Selain itu, saus yang digunakan juga merupakan asli kreasi Velly yang diberi nama Klenger Mix. Alhasil didapatlah Burger mengenyangkan bercita rasa gurih dan spicy.

Pada tahun yang sama setelah Grand Opening tanggal 10 Februari 2006, ternyata Velly sudah bisa meraih kepercayaan para franchisee hingga ia mampu mencabangkannya sebanyak 38 outlet. ”Padahal izin kami hanya SIUP Perorangan waktu itu. Surprise banget buat saya.” Lanjut Velly.

Berkembang Pesat

Velly kini tersenyum manis. Walaupun ia mengaku sempat mengalami pencurian hak paten Klenger Burger di tahun 2008, tetap saja hal tersebut tak berhasil membendung perkembangan usahanya. Sebab hingga Februari 2010 , tak kurang dari 68 outlet sudah terdaftar dalam outlet list PT. Kinarya Anak Negeri.
Apa rahasia dibalik kesuksesan Velly bersama Klenger Burger? Terlihat dari semua yang ia lakukan, telah dapat disimpulkan bahwa kuncinya adalah orisinalitas. Tidak menjadi yang pertama adalah bukan kesalahan. Namun bagaimana kita menyesuaikan diri sebagai bukan yang pertama hingga menjadi yang terbaik adalah kewajiban seorang pengusaha, itulah yang dilakukan Velly.

Glowers tentu bertanya-tanya, berapa investasi yang diperlukan untuk memiliki salah satu outlet asuhan PT. Kinarya Anak Negeri? Investasi outlet yang paling terjangkau adalah Burins. Investasinya hanya membutuhkan biaya ± Rp.15.000.000,-. Velly berani memprediksi setiap chiller Burger Instan yang saat ini sudah tersebar di jaringan Circle K dan Alfa Express di Jabodetabek dapat menjual 40 buah burger setiap harinya dengan harga rata-rata per burger Rp. 12.500,-. Beban-bebannya sebesarnya 80%, itu berarti Glowers bisa mengantongi Rp. 2.950.000,- setiap bulannya. Investasi yang cocok untuk anak muda!

Bagi Glowers yang memiliki modal lebih besar, tidak ada salahnya untuk mencoba berinvestasi pada jenis outlet Foodteran atau KFG. Investasi yang dibutuhkan yaitu sebesar ± Rp. 200.000.000,- untuk outlet Foodteran yang rata-rata memiliki penjualan bulanan sebesar Rp. 90.000.000,- dan ± Rp. 500.000.000,- untuk outlet KFG dengan rata-rata penjualan bulanan sebesar Rp. 150.000.000,-. Keduanya memiliki margin yang sama sebesar 14% dari total omzet per bulan. Glowers pilih yang mana?

source : Glow up Magazine

Thursday, November 26, 2009

Harga Sebuah Kepercayaan



Informasi mengenai KINARYA ANAK NEGERI, kunjungi :
web :www.kinarya.co.id
blog : http://kinaryaanaknegeri.blogspot.com
atau join Facebooknya DISINI

Monday, November 9, 2009

Belajar Mandiri Dari Anak Rantau

Velly Kristanti; Belajar Mandiri Dari Anak Rantau
Monday, 9 November 2009
sumber : www.perempuan.com

Ada pepatah kuno mengatakan ‘belajarlah sampai negeri Cina’, hal itu mungkin yang mengilhami Velly Kristanti, direktur sekaligus pemiliki merk franchise Klenger Burger yang berkantor pusat di Jl. RC. Veteran, Bintaro ini. Untuk meraih segala yang diimpikan, ibu dua anak ini tak henti-hentinya belajar, baik pendidikan formal, non formal juga dari pengalaman-pengalaman hidupnya selama masih kuliah.

Velly yang dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan keluarga pekerja ini memang sedikit ‘menyimpang dari pakem keluarganya yang semuanya adalah pegawai. Perempuan cantik kelahiran 26 Desember 1974 ini memang sempat bekerja di beberapa perusahaan dengan berbagai jabatan, namun itu semua ia tinggalkan dan memilih untuk membuka usaha sendiri yang memang sudah menjadi targetnya.


Keputusannya untuk membuka usaha memang berdasarkan banyak faktor, namum menurut perempuan berjilbab ini, saat itu faktor utama yang membuatnya beralih profesi adalah masalah ekonomi yang membelit kehidupannya. “Kebetulan saat itu keadaan ekonomi saya sedang berada di level bawah, sehingga saya dan suami harus mendapatkan penghasilan lain untuk bisa menutupi semua kebutuhan yang semakin membengkak,” ungkap alumnus Sastra Belanda Universitas Indonesia ini.

Pada tahun 2002, Velly dan suaminya memutuskan untuk membuka warung makan Sunda, namun karena usahanya itu dibarengi dengan bekerja sehingga pengelolaan rumah makan itu menjadi tidak fokus. Akibatnya, usahanya tersebut berjalan dengan tersendat-sendat bahkan bisa dikatakan jalan di tempat. “Yah karena disambi bekerja dan juga banyak cobaan, akhirnya rumah makan itu tutup, sehingga kami mencoba berbinis dengan teman-teman untuk mendapatkan penghasilan lebih,” tutur perempuan yang hobi menyanyi ini.



Seiring berjalannya waktu, Velly dan suami mencoba kembali membuka usaha baru dan tercetuslah untuk membuka restoran siap saji berupa burger dan sejenisnya. Keputusan itu ia ambil berdasarkan asumsi bahwa saat itu kecenderungan masyarakat dalam memilih menu siap saji semakin meningkat. “Waktu itu kami melihat bahwa masyarakat lebih senang memilih menu yang siap saji karena mereka memiliki keterbatasan waktu dalam beraktifitas, oleh sebab itulah kami memutuskan untuk membuka restoran siap saji ini,” tukas anak kedua dari empat bersaudara ini

Pada Februari 2006 akhirnya berdirilah kedai Klenger Burger. Ia sengaja memilih nama klenger, karena menurutnya nama itu memiliki ciri khas lokal. “Burger kami memang berbeda, walaupun berpenampilan burger asal Amerika, namun rasanya sangat Indonesia, jadi sangat cocok dengan lidah orang Indonesia,” cetus Velly berpromosi.

Saat ini Velly memang patut berbangga, karena dengan jerih payahnya selama ini, ia telah berhasil membuka tak kurang dari 47 kedai burger yang tersebar di kawasan Jabodetabek, Surabaya, Bandung dan Bali. Bahkan saat ini merk dagangnya tersebut telah di ‘incar’ sebuah retail besar asal Perancis untuk meramaikan produk dagangannya. Namun begitu ia mengaku bahwa keberhasilannya saat ini bukan berarti tanpa hambatan. “Hambatan itu pasti ada, tinggal bagaimana kesiapan mental kita dalam menyingkapi semua hambatan itu,” jelas Velly

Disinggung tentang disiplin ilmunya yang sangat jauh dengan profesinya saat ini, perempuan bertubuh mungil ini berpendapat bahwa ilmu tetaplah ilmu, yang sangat bermanfaat untuk kehidupannya. Ia juga mengaku banyak belajar tentang kemandirian dari anak-anak rantau. “Karena jauh dari orang tua, saat kuliah aku harus kos, dari situlah aku banyak mendapatkan ilmu tentang kemandirian dari teman-teman satu kos,” papar perempuan berdarah Sunda ini.

Sebagai seorang perempuan yang memiliki karir dan kesibukan, Velly mengaku tak kesulitan dalam mengatur waktunya untuk keluarga tercinta. Menurutnya keluarga haruslah tetap menjadi prioritas utama. ”Walau saya memiliki kesibukan yang luar biasa, tapi saya selalu menyempatkan diri untuk mengurus keluarga. Saya ibu dari dua anak, jadi saya harus tetap berada pada kodrat saya sebagai perempuan, istri dan ibu dari anak-anak saya,” ucap Velly

Itulah sebabnya Velly berpendapat bahwa sah-sah saja perempuan memiliki karir yang bagus dalam kehidupannya, karena memang saat ini waktu sepertinya telah membuka peluang buat perempuan untuk mengembangkan segala kemampuan. “Menurut saya ngga ada salahnya ya perempuan bisa semaju laki-laki, tapi ya harus diingat bahwa mereka (perempuan-red) punya kodrat dan jangan lupakan hal itu,” selorohnya dengan senyum mengembang

Seperti juga pendapat banyak orang tentang perempuan cantik, Velly juga berpendapat bahwa penilaian cantik sangat relatif dan tergantung dari siapa yang dinilainya dan siapa yang menilainya. “Tapi menurut saya cantik itu terkadang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata, karena terkadang perempuan bisa terlihat cantik karena ia memiliki sesuatu yang kita tak bisa menerka apa yang bisa membuat perempuan tersebut terlihat cantik, entah itu dari fisiknya atau mungkin juga dari bathinnya,” pungkas Velly dengan kening yang berkerut.

Monday, October 26, 2009

Modal Awal Pinjam Mantan Atasan


[ Rabu, 26 Agustus 2009 ]
Velly, Bos Klenger Burger, Pizza Kriuk, dan Clemots
Modal Awal Pinjam Mantan Atasan

Yang namanya usaha, tentunya perlu modal, dan lebih afdol jika ada pengalaman. Lalu bagaimana jika semua syarat itu tidak ada ? Garis nasib Velly Kristanti bisa menjadi pelajaran. Sempat tabungan habis karena nekat melepas posisi empuk di perusahaan mapan. Velly dan suami berkerja sangat keras sehingga menjadi pasangan tersukses di bisnis kuliner lewat karya mereka Klenger Burger, Pizza Kriuk, dan Clemots

---

TAK hanya aroma dan rasanya yang membangkitkan selera banyak orang, laba bisnis makanan juga cukup menggiurkan. Semua hal itu telah dibuktikan Velly Kristanti, commisioner PT Kinarya Anak Negeri ( KAN ), pencipta dan pemegang hak atas merek makanan siap saji, Klenger Burger, Pizza Kriuk, dan Clemots. Dalam tahun pertama usahanya, gerai yang dikelola Velly berkembang hingga menembus jumlah 47 buah. Beberapa gerai yang menelan dana mencapai Rp100-200 juta, bahkan bisa balik modal dalam tiga bulan.

Keberhasilan Velly itu pasti tidak datang begitu saja. Ibu cantik yang dikaruniai dua anak itu harus berjibaku dari nol. Semua sukses Velly dan Gatut adalah buah dari kenekatan mereka keluar dari pekerjaan mapan masing-masing. Wanita berdarah Sunda ini sebelum berwirausaha adalah karyawan bagian marketing di salah satu perusahaan periklanan besar di Jakarta. Sedangkan Gatut bekerja sebagai akuntan di salah satu perusahaan patungan lokal dan asing yang bergerak di bidang teknik, yang juga berkantor di ibu kota. "Awalnya kami keluar dari perusahaan karena ingin membuat perusahaan sendiri yang bergerak di bidang advertising dan IT pada 2004,'' terangnya saat Jawa Pos mewawancarainya di Kantor Pusat Klenger Burger di Jl. RC. Veteran, Bintaro, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Pasangan muda itu menganggap, ketika bekerja untuk orang lain tak bisa mendapat kompensasi sesuai dengan apa yang didapatkannya untuk perusahaan. Selain itu, juga ada kesulitan tersendiri untuk bisa naik jabatan sesuai dengan yang diinginkan.''Misalnya saya mendapatkan klien yang memakai jasa perusahaan dengan nilai miliaran, saya tak akan mendapataan kompensasi dengan nilai yang sama atau bahkan setengahnya. Sedangkan suami saya juga memiliki peluang yang sangat kecil untuk bisa naik ke jabatan yang paling tinggi menyalip para tenaga asing,'' terang wanita kelahiran Jakarta 33 tahun lalu itu.

Namun, sayang setelah dilakoni selama dua tahun, bisnis Advertising dan IT mereka mandek. Karena kantong mereka cekak, usaha mereka kalah bersaing dengan perusahaan asing dan lokal yang bermodal lebih besar dan bisa membeli sarana yang lebih canggih. ''Yang lebih parah kami juga ditipu partner bisnis, sampai sisa tabungan kami ludes,'' ujar wanita jebolan D3 Fakultas Sastra Belanda Universitas Indonesia yang memiliki hobi bermain basket itu.

Pada 2006 mereka akhirnya memutuskan mundur dari bisnis periklanan dan IT. Dalam kondisi tertekan penggemar empek-empek Palembang itu teringat warung yang yang dimilikinya Bekasi. ''Pada 2002 saya sempat mendirikan warung masakan asal khas Sunda. Tetapi, karena kesibukan di kantor, pengelolaannya saya serahkan orang dan tak terurus,'' terang wanita yang mengaku menikah pada 2000 ini.

Dia memang mengakui semangat juangnya keluar ketika kepepet. Saat itu, wanita yang kini kerap kali diminta menjadi pembicara di beberapa forum entrepreneur itu langsung mendapat ide untuk membuka usaha gerai penyedia makanan khas Amerika Serikat (AS) yakni burger.''Sebab, makanan ini digemari oleh semua umur terutama kaum muda yang suka jajan, bisa disajikan dengan mudah serta cepat. bisa dinikmati di mana saja, dan kapan saja,'' terang pengagum pengusaha Bob Sadino itu.

Sebelum membuka gerai pertama, selama tiga bulan, putri pasangan Engkos Koswiya dan Etty Ruswati tersebut melakukan riset. Penyuka bakso itu ingin membuat daging isi burger atau beef patties dengan cita rasa yang akrab dengan lidah orang Indonesia dan beda dari merek-merek lainnya yang cenderung berusaha meniru cita rasa burger dari negara asalnya.

Sang mertua sempat mengiranya depresi. Karena selama tiga bulan dia, setiap hari terus-menerus membeli daging, kemudian menaruhnya di freezer untuk dibekukan sebelum diracik menjadi isi burger.''Beliau juga sedikit menyesalkan karena kami berdua keluar dari pekerjaan yang bisa dibilang telah mapan itu dan memilih jalan hidup yang agak aneh. Nekad membuka usaha walau tanpa pengalaman,'' terang wanita yang saat kecil bercita-cita sebagai astronot itu.

Setelah dia menganggap telah menemukan cita rasa yang pas untuk daging yang sebelumnya di-grill atau dipanggang terlebih dahulu sebelum dijadian isi burger itu, Velly lalu membuka gerai pertama dibangun di daerah Pekayon, Bekasi, di depan warung khas masakan Sundanya.

Sayang keinginannya itu tak bisa langsung terealisasi, karena dia dan suami tak memiliki modal lagi. ''Akhirnya setelah kami dapat pinjaman Rp15 juta dari mantan atasan di kantor lama, pada Februari 2006 kami membuka gerai burger pertama yang sederhana berukuran 3x5 meter,'' ucapnya. Dia merancang resep burger dengan cita rasa masakan Indonesia menjadi favorit orang di sekitar gerainya. Sejak itu, bagai bola es, gerai Velly terus bertambah. Tiap bulan dibuka 3-5 gerai.

Kini, pada tahun kedua usaha, gerai makanan siap saji di bawah payung PT Kinarya Anak Negeri mencapai 72 buah. Gerai-gerai itu beroperasi di Jakarta , Bogor , Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Selain itu juga ada di Bandung , Surabaya, dan Denpasar, Bali .

Selain itu, kini telah ada tiga konsep gerai yang berbeda yakni gerai Kelenger Burger, ada gerai Pizza Kriuk yang menyajikan aneka hidangan pizza, dan Clemots yang menyajikan minuman kopi special ala Velly.

Serta ada satu gerai yang dinamakannya Footeran, yakni gabungan tiga konsep gerai atau 3 in 1 dalam satu atap dari Kelenger Burger, Pizza Kriuk, dan Clemots.''Kini dalam satu bulan, Klenger Burger saja bisa memasarkan sekitar 70 ribu burger, pizza, hot dog dan beberapa makanan lain,'' terangnya. Jika di rata-rata harga per buah mencapai Rp 10.000, omzet penjualan mencapai Rp 700 juta per bulan. (lucky nur Hidayat/kim)

Tentang Velly

Nama : Velly Kristanti
Lahir : Jakarta 26 Desember 1974
Suami : Gatut Cahyadi
Pendidikan : D3 Sastra Belanda Universitas Indonesia
Jabatan : Commisioner PT Kinarya Anak Negeri ( KAN )
mengelola 72 gerai di Indonesia.
Hobby : Basket, Membaca, Puisi

Sumber :http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=87340

Thursday, October 23, 2008

Jodohkan Burger Dengan Singkong

Velly Kristanti Jodohkan Burger Dengan Singkong
Melangit di langitperempuan pada 23 Oktober 2008




Menjamurnya kedai-kedai luar negeri dan maraknya pengunjung di setiap outlet tersebut, membuat Velly Kristanti (32) melihat peluang sukses di bisnis ini. Diawali dengan promosi melalui internet dan website, alumnus Sastra Belanda Universitas Indonesia ini sejak 2006 hingga awal 2008 berhasil membuka 47 kedai burger dengan merek Klenger Burger (KB) melalui sistem waralaba.

“Saya ingin membuktikan bahwa anak negeri juga kreatif menciptakan penganan yang tidak kalah dengan buatan luar,” tukas ibu dua anak yang menggambarkan burgernya sebagai western made eastern. Nama Klenger sengaja ia gunakan untuk mencerminkan rasa burgernya yang sangat lokal. Meskipun burger yang dijajakan tetap berpenampilan burger asal Amerika, namun rasanya ia sesuaikan dengan lidah Indonesia.

Membuat burger yang inovatif dan mix and match antara selera lokal dan modern merupakan salah satu keunggulan yang ditawarkan KB, “Selain burger, kami juga punya Pizza Kriuk, yaitu pizza yang dipadupadankan dengan makanan lokal, contohnya pizza toping sate,” terangnya. Selain pizza, KB juga menyediakan Cassava, yaitu french fries yang bahan dasarnya dari singkong. “Kami kan anak singkong,” selorohnya.

Berawal dari Kegagalan

Sebelum KB berdiri pada Februari 2006, Velly lebih dulu melakukan berbagai promosi lewat internet dan website. Setelah melihat animo masyarakat yang cukup tinggi, barulah ia membuka outlet pertamanya, yaitu di Bintaro dan Bekasi. Pemilihan tempat di Bintaro, menurutnya didasari atas faktor kedekatan dengan rumah tinggalnya. Sedangkan di Bekasi, karena Velly sempat memiliki rumah makan Sunda di sana.

Sebelumnya, Velly memang pernah membuka restoran makanan tradisional Sunda. Sayangnya, bisnis ini macet di tengah jalan. Tapi kegagalan ini ia anggap sebagai tempaan dalam hidup dan senantiasa menjadikannya sebagai pelajaran berharga. “Tidak ada kegagalan yang tidak bisa kita pelajari,” tukasnya filosofis. Bahkan kegagalan dalam berbisnis adalah cambuk baginya untuk mengembangkan usaha yang lebih baik lagi.

Berbekal pengalaman dan kegagalan inilah, pada April 2006 ia dan suami, Gatut Cahyadi, resmi menjadi KB sebagai merk waralaba atau franchise. “Saya melihat bahwa untuk membangun usaha yang besar harus diperlukan sinergi yang kuat,” jelas pendiri sekaligus Direktur MarCom (perusahaan marketing KB) yang rajin memantau perkembangan franchise-franchise-nya. “Kalau dulu saya keliling bareng suami, tapi sekarang sudah ada tim yang bertugas untuk itu,” tambahnya.

Dengan bantuan tim NBD outlet, tim maintenance yang akan berkeliling ke outlet-outlet KB yang sudah berdiri, Velly memastikan bahwa outlet franchise-nya dipelihara dengan baik dan sesuai dengan standar KB. “Jika manajemen outlet ada yang tidak sesuai, kami akan mengambil alih outlet tersebut,” tegas Velly yang pernah mengambil dua outlet, di Cibubur dan Bintaro akibat tak sesuai standar. “Selain memelihara outlet, tim ini juga mengadakan training manajemen usaha untuk seluruh karyawan,” lanjutnya.



Kejelian untuk melihat dan memanfaatkan peluang yang ada, itulah kunci keberhasilan ibu dari Muhammad Rakha Abyan (6) dan Syafira Azzahra Chairunnisa (3,5) ini. “Kalau boleh mengutip Bob Sadino, peluang itu ada dari ujung kepala sampai ujung kaki,” ujar pengusaha yang sudah bekerja saat masih kuliah. “Saya satu-satunya di keluarga yang tinggal berjauhan dari orangtua,” jelas Velly yang tinggal Bekasi tapi kuliah di Depok. “Saat kos, saya bertemu dengan banyak anak rantau, dari mereka lah saya belajar hidup mandiri,” paparnya. (Rahmi/Teti-foto:dok pribadi/halohalo.co.id)

Sumber : http://www.langitperempuan.com/2008/10/velly-kristanti-jodohkan-burger-dengan-singkong/

Search

Popular Posts